Wednesday, September 27, 2006

Selamat menunaikan Ibadah Puasa
Dalam posting kali ini, dr.Iwan dan segenap crew dr. Iwan Bicara seks mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi seluruh umat muslim yang membaca blog ini. Kiranya kita semua dapat menunaikan ibadah ini dengan penuh keikhlasan agar mendatangkan kebaikan bagi kita semua.

Kami juga memohon maaf sebesar-besarnya karena blog ini sedikit terlambat untuk diupdate karena kesibukan kami masing-masing. Apabila kesibukan kami agak mulai berkurang, kami akan segera memposting hal-hal yang menarik bagi rekan-rekan semua. Semoga rekan-rekan bisa mengerti.

Tetap semangat!
Salam,

Redaksi

Saturday, September 23, 2006

Konsekstasi : Pakai Minyak Kelapa atau Baby Oil?
Umur saya 29 th dan istri saya 28 th. Kami sudah 3 tahun menikah. Anak kami 1 orang. Masalah kami adalah setiap kali hubungan intim, pelumasan alami pada vagina terasa kurang sehingga terkadang istri saya merasa tidak nyaman(apalagi saya, rasanya sereeet banget!). Padahal kami telah melakukan pemanasan yang kami saya rasa cukup untuk membangkitkan gairah. Akhirnya kami menemukan cara yang saya kira tidak kotor-kotor amat, yakni menggunakan air ludah untuk memudahkan penetrasi.
Pertanyaan kami :

Amankah menggunakan air ludah (secara medis) Bagaimana dengan pemakaian Baby Oil, karena beberapa kali kami coba tidak menyebabkan alergy. Apakah ada terapi makanan untuk meningkatkan produksi pelumas pada vagina. Terima kasih.
Bapak Haryo, Semarang

JAWAB :

Terima kasih Pak Haryo atas suratnya yang cukup lama ngendon di redaksi, mudah-mudahan setelah membaca surat ini bapak tidak lagi merasakan 'seret' seperti sebelumnya.

Begini, kondisi yang dialami oleh istri bapak menunjukkan kalau proses lubrikasi atau pelumasan yang merupakan produk dari kelenjar-kelenjar di vagina, tidak bisa berlangsung dengan baik. Hal seperti ini bisa terjadi karena beberapa hal, misalnya kurangnya foreplay atau pemanasan. Memang benar bahwa foreplay tidak selalu harus dengan perangsangan-perangsangan secara fisik, misalnya dengan melakukan sentuhan-sentuhan di alat kelamin saja.

Mungkin tidak seperti itu! Ada kalanya justru seorang wanita justru membutuhkan kenyamanan secara psikologis, misalkan perasaan dilindungi, diayomi, tidak terburu nafsu dll. Ini barangkali yang diharapkan oleh istri bapak. Jadi mungkin bisa dengan berdiskusi atau dilakukan dengan suasana yang romantis, dengan lampu remang-remang, atau dengan alunan musik yang syahdu. Jadi jangan grudag-grudug, alias grusa-grusu asal masuk aja....
Dalam keadaan tertentu memang pelumasan pada wanita bisa saja berkurang, entah karena ada gangguan seperti infeksi saluran kemih, keputihan dll, tapi pada umumnya penyebab yang paling sering adalah masih kurangnya perangsangan yang dilakukan terhadap wanita tersebut. Hal ini bisa dibantu dengan tehnik oral yang disebut "cunillingus" dimana dilakukan perangsangan dengan mulut dan lidah dari pria terhadap kelamin wanita. Hal ini akan cepat sekali menimbulkan pelumasan pada vagina ditambah pula dengan bercampurnya ludah si pria, seperti yang selama ini bapak lakukan. Jadi tidak masalah selama kedua pihak dalam keadaan kesehatan yang baik.
Kalaupun mau diberi pelumasan tambahan boleh-boleh saja : misalnya dengan pemberian baby oil atau yang paling sederhana menggunakan minyak kelapa yang masih baru, sehingga cukup menambah jumlah pelumas yang sebetulnya sudah ada namun belum cukup membasahi jalur senggama. Tapi sekali lagi penggunaan cairan-cairan semacam ini harus diperhatikan betul segi kebersihannya, jangan sampai justru menimbulkan infeksi baru di vagina. Wah malah tambah sakit ntar...

Untuk sekedar saran bagi istri bapak, barangkali perlu banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan di dalam menunya sehari- hari, dan sedapat mungkin yang mengandung banyak air: seperti mentimun, semangka, bayem dll. Walaupun pada beberapa orang wanita seringkali menimbulkan keputihan yang cukup mengganggu, misalnya pada buah nanas, bengkuang, justru keputihan seperti inilah yang berguna sebagai cairan pelumas pada istri bapak. Silakan dicoba. (dr. iwan)

Thursday, September 14, 2006

Konsultasi Seks : Onani oh Onani...

Langsung saja Dok, saya seorang pelajar di SMU Swasta Favourit yang berumur 16 tahun. Seperti yang kita ketahui sekolahku memiliki banyak siswa berdaya tarik tinggi, khususnya dalam sikap, intelejensia dan penampilan. Hal ini membuat saya sering tidak dapat menahan rasa nafsu bila melihat teman wanita yang kelewat cantik. Kesemuanya ini berdampak seringnya saya melampiaskan dengan jalan onani. Hampir sehari sekali saya melakukannya.

Melalui rubrik ini saya mewakili teman-teman untuk menanyakan beberapa pertanyaan :
Apakah onani itu perlu?
Apakah akibat jangka panjang dari onani yang berlebihan?
Mengapa setiap kali onani “Mr P”-ku sering terasa perih?
Apa ada cara onani yang aman?
Wajarkah bila saya dan teman-teman melakukan hal ini?
Terima kasih atas jawabannya.
Albert, Semarang

jawaban:
Thanks Albert, sepertinya saya membayangkan kalau Albert dan teman-teman termasuk golongan remaja yang punya prinsip 'bayangan hidup' sampai tahap 'pandangan hidup'. Baru membayangkan saja sudah 'hidup' alias ereksi, apalagi kalau sudah memandang sesuatu yang merangsang. Itulah yang sering saya katakan remaja yang sedang mengejolak, dalam usia demikian memang produksi hormon-hormon seksualnya sedang amat sangat pesatnya sehingga gampang terangsang. Secara medis saya selalu menyampaikan kalau masturbasi atau onani adalah satu cara penyaluran dorongan seks dan ini wajar dialami oleh remaja seusiamu.

Sekali lagi saya tidak bisa mengatakan apakah onani itu perlu atau tidak, karena tingkat kebutuhan setiap orang khan berbeda. Kenapa kamu justru menyalurkan dengan cara onani, karena sebagian teman-temanmu melakukan juga sehingga pengaruh teman akan sangat besar. Sebaliknya mungkin ada juga remaja yang tidak tahu apakah itu onani sehingga, penyalurannya lebih banyak dengan cara menbayangkan saja, yang akan berakhir dengan mimpi basah pada malam harinya. Inipun juga wajar-wajar saja!!

Beberapa ahli mengatakan bahwa frekuensi masturbasi seorang remaja meningkat ketika sedang stress, dan justru peningkatan frekuensi inilah yang membuat seorang remaja jadi 'bermasalah', sehingga membutuhkan seseorang untuk berkonsultasi. Begitu banyak mitos yang beredar di kalangan remaja, seperti onani bisa menimbulkan terjadinya impotensi, kemandulan, ejakulasi dini tapi sebenarnya ketakutan-ketakutan itulah yang akan membuat mitos itu menjadi kenyataan, walaupun secara logika sulit dijelaskan. Belum lagi perasaan bersalah, dosa yang menghantui setiap saat, perasaan-perasaan ini seringkali justru akan berdampak menurunkan prestasi belajar.
Nah ini justru berbahaya... lagi kalau dalam onani, kamu menggunakan alat-alat bantu, atau cairan yang bersifat kimiawi dan bersifat iritatif, misalnya pelumas, sabun, vaselin, lotion, baby oil dll. Seringkali kulit kita terlampau sensitif untuk cairan semacam itu, dan cara inilah yang saya anggap sangat tidak aman. Bagaimana cara yang paling aman, Albert tentu lebih tahu (kalau saya mungkin lebih baik tidak onani saja, itu yang paling aman!)

Ok-lah! Tapi, bagaimanapun saya berharap dengan penjelasan saya ini kamu dan teman belum terlalu puas sehingga kita perlu banyak bertemu untuk membicarakan masalah ini, silakan bisa berkonsultasi ke klinik atau perlu banyak mengalihkan dalam kegiatan-kegiatan positif (seperti ekstra kurikuler), sehingga dorongan untuk ber'onani'ria bisa dikurangi. Sekali lagi saya tidak bisa mengatakan normal atau tidak normal, karena masturbasi atau onani di negara timur seperti Indonesia ini masih berhubungan erat dengan budaya, norma dan agama, sehingga benturan-benturan yang ada seringkali muncul dalam bentuk larangan-larangan atau dosa.
(dr. iwan)